Langsung ke konten utama

Regulasi Impor Perikanan Mendesak

Jakarta, Kompas - Pemerintah perlu segera menerbitkan regulasi impor perikanan, apalagi menjelang pelaksanaan perdagangan bebas. Tanpa kebijakan pengendalian impor perikanan, impor itu dipastikan memukul pasar domestik, nelayan, pembudidaya, serta mengancam keamanan pangan nasional.

Draf aturan pengendalian impor perikanan disusun oleh Departemen Kelautan dan Perikanan serta Departemen Perdagangan sejak tahun 2008, tetapi hingga kini belum tuntas.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik, Jumat (4/12) di Jakarta, mengemukakan, pemerintah harus serius menyusun regulasi impor, terutama mendekati terbukanya perdagangan bebas tahun 2010.

Penyusunan regulasi impor, ujar Riza, harus disertai dengan penetapan ambang harga dasar untuk produk perikanan tertentu yang memiliki volume produksi besar. Penetapan harga dasar itu merupakan katup pengendali. Impor tidak perlu dilakukan jika harganya di bawah harga dasar.

Selain itu, ia juga mengusulkan agar pemerintah menyusun daftar produk perikanan tertentu yang tidak boleh diimpor, misalnya udang, guna menjaga keamanan pangan, melindungi petambak, dan nelayan. ”Kebijakan regulasi impor harus mampu melindungi nelayan, petambak, lingkungan, mengatasi kemiskinan, dan kelangkaan ikan konsumsi,” ujar Riza.

Sejak 2005, Indonesia menerapkan tarif bea masuk yang rendah terhadap produk perikanan. Dari 236 daftar produk perikanan, sekitar 80 persen di antaranya dikenai tarif 5-8 persen. Dalam perjanjian ASEAN-China, tarif bea masuk produk ikan segar dan beku ke Indonesia bahkan ditetapkan nol persen.

Direktur Pemasaran Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Saut Hutagalung mengakui, ketiadaan aturan impor berpotensi membahayakan keamanan pangan konsumen, terganggunya pasar perikanan domestik, serta masuknya hama dan penyakit yang dibawa produk impor.

Tahun 2008, volume impor produk perikanan 280.179,34 ton dengan senilai 268 juta dollar AS, naik 68 persen dibandingkan 2007, yang hanya 160 juta dollar AS dengan volume impor 120.000 ton. Impor produk perikanan, baik produk ikan segar maupun beku, meningkat 150 persen dibandingkan 2007. (LKT)

Sumber: http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/12/05/ 03365259/ regulasi. impor.perikanan. mendesak

Komentar

  1. lucu kan?
    potensi perikanan Indonesia yang demikian besar, tapi impor produk perikanannya malah meningkat.
    mari kita perbaiki bersama.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari nelayan

Praktikum di Pulau Panjang memberikan pelajaran yang sangat berharga. Propinsi Banten memiliki potensi budidaya rumput laut yang sudah dikenal luas di daerah lain. Hal ini memberikan inspirasi untuk menginisiasi pelatihan budidaya rumput laut dan pasca panen rumput laut di Pulau Panjang. Banyak orang yang telah melakukan pelatihan budidaya rumput laut di Pulau Panjang. Potensi lokal ini harus juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Banten pada khususnya, sehingga kita pun dapat memiliki kecakapan dalam budidaya rumput laut ini. Mudah-mudahan dapat terlaksana pada liburan semester ganjil ini. Rencana ini telah dibicarakan pada Pak Dani (sekdes Pulau Panjang), dimana beliau pun menyambut baik rencana ini. Bagi mahasiswa yang berminat, dapat menghubungi penulis untuk membahas rencana ini lebih lanjut.

Stocking Experiment

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada penelitian mengenai padat tebar, diantaranya adalah 1) keseragaman ukuran ikan. Variasi ukuran yang tinggi pada ikan uji dapat berdampak terhadap hasil, tingkat kelangsungan hidup dan padat tebar optimal yang didapatkan. 2) variabel independen yang digunakan. Jika variabel independen yang digunakan adalah biomassa per satuan luas permukaan atau volume, dapat menimbulkan permasalahan sebagai berikut : pada padat tebar 2 g per satuan luas atau volume, maka dapat muncul dua pengertian. pertama, 1 ekor ikan dengan berat 2 g, kedua, dua ekor ikan dengan berat masing-masing 1 g. dua hal ini, sama-sama memberikan pengertian padat tebar 2 g per satuan luas atau volume. Namun demikian, dari dua hal diatas, tentu saja kebutuhan energi totalnya jelas berbeda. 3) Penggantian ikan yang mati. terkadang, untuk menjaga agar padat tebarnya tetap sama, dilakukan penggantian terhadap ikan yang mati. padahal hal ini harusnya dihindari. karena penggantian ...